Apel Siaga Tanggap Bencana Cimahi‑KBB Libatkan 380 Personel, Kapolres Ingatkan Pemetaan Rawan Longsor Masih Perlu Penyempurnaan


 CEO GROUP  | Cimahi  - Apel Siaga Tanggap Bencana lintas‑instansi resmi digelar seiring meningkatnya intensitas hujan disertai angin kencang yang berpotensi memicu banjir, tanah longsor, pohon tumbang, angin puting‑beliung hingga kerusakan fasilitas umum di wilayah Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB).


Kegiatan tersebut dihadiri unsur Walikota Cimahi, Bupati Bandung Barat, Dandim serta jajaran instansi terkait sebagai langkah awal menyamakan arah koordinasi sebelum cuaca ekstrem semakin parah sepanjang musim hujan. 


Kapolres Cimahi AKBP Endy Desianto menjelaskan, apel ini bukan sekadar seremonial karena beberapa waktu sebelumnya sudah tercatat kejadian bencana yang merusak sejumlah rumah warga di Padalarang.


"Sehingga seluruh unsur diminta tidak bekerja sendiri‑sendiri saat menangani kejadian darurat nanti," kata Endy saat ditemui usai apel, Rabu (4/11/2026).


Endy menyebut, sebanyak 380 personel gabungan dari berbagai instansi telah dikerahkan untuk mendukung skema penanganan pra‑bencana, saat bencana, hingga pascabencana di dua wilayah tersebut.


"Kesiapsiagaan tidak hanya mengandalkan jumlah personel dan kelengkapan peralatan, melainkan juga kesiapan mental, kepedulian serta semangat pengabdian agar negara benar‑benar hadir memberikan rasa aman bagi masyarakat," sebutnya.


Pada tahap pencegahan pra‑bencana, jelas Endy, jajaran Bhabinkamtibmas sudah mulai turun ke lapangan untuk mengingatkan warga yang bermukim di titik‑titik berpotensi longsor. 


Kendati demikian, proses pemetaan wilayah rawan bencana yang meliputi kawasan rawan longsor, jalur aliran banjir serta titik rentan angin puting‑beliung masih perlu disempurnakan, terutama karena fenomena angin puting‑beliung sulit diprediksi lokasi kemunculannya secara pasti.


"Tim gabungan berencana membentuk posko bersama serta menetapkan titik kumpul darurat yang fleksibel, bisa berpusat di Markas Polres maupun langsung di lokasi kejadian agar respons terhadap laporan bencana menjadi lebih cepat dan terkoordinasi antar‑instansi," bebernya.


Saat ini, terang Endy, nomor darurat utama yang dapat dihubungi warga, yakni nomor 110 milik Polri, pihaknya berkomitmen untuk menyampaikan laporan tersebut ke instansi‑instansi penanggulangan bencana lain sekaligus menyiapkan daftar nomor kontak resmi gabungan agar warga tidak bingung mencari bantuan saat keadaan darurat terjadi.


"Kepada seluruh warga Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat, kami mengimbau  agar mulai mengenali karakteristik lingkungan tempat tinggal masing‑masing, termasuk tanda‑tanda awal tanah longsor, saluran air tersumbat serta pohon‑pohon rawan tumbang di sekitar rumah," ujarnya.


 Apabila menemukan gejala bahaya maupun sudah terjadi bencana, lanjut Endy, warga diharapkan segera melaporkan ke nomor darurat yang tersedia agar tim gabungan dapat bergerak secara bersama‑sama, bukan hanya unsur kepolisian saja. 


Ia mengajak seluruh unsur yang terlibat untuk menjaga kekompakan, disiplin, bersikap responsif serta bertanggung jawab mulai dari tahap pencegahan sebelum bencana datang hingga penanganan setelah kejadian berakhir. 


"Sinergi lintas‑daerah ini menjadi sangat penting, mengingat batas administrasi Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat sering kali tidak menjadi batas alami aliran air maupun pergerakan tanah," ujarnya.


"Sehingga penanganan terpisah akan menurunkan efektivitas perlindungan terhadap ribuan warga yang bermukim di kawasan rawan bencana kedua wilayah tersebut," pungkasnya.

0 Komentar